Aku wanita yang biasa saja, yang pernah kau kenal tanpa aku kenal...
Aku wanita yang biasa saja, yang di depanmu hanya bisa menunduk dan memohon maaf atas segala yang aku perbuat.
Dilemanya hati ini, ketika tak ada kata maaf darimu.
Aku, mencoba bersabar untuk menyikapi semua ini. Meskipun sangat menyakitkan.
Tak ingin ku berlarut-larut dalam kesedihan tiada tara, meski rasanya ingin berbagi denganmu.
Kau pun telah mengetahui sendiri bahwa kau adalah kekasihku yang bisa kujadikan sahabat dalam hidup.
Yang telah meluangkan waktu untuk mendengarkan celotehanku yang mungkin tidak penting.
Beribu-ribu untaian terima kasih untukmu, menghiasi hari-hariku,
Aku yang menyayangimu, mencoba untuk bersabar menunggu pulihnya rasa sakit yang kau derap akanku.
Tapi, bisakah aku meminta satu kali saja kesempatan untuk memperbaikinya?
Baru kali ini aku mengemis kasih, mengemis pada seseorang dan bukan pencipta alam ini.
Dulu, aku pernah memberikanmu satu kesempatan, sekarang adakah kesempatan untukku?
Jangan diamkan aku seperti ini. Ini sama saja kau menusukku secara perlahan dan bertubi-tubi.
Andai aku wanita yang tak mudah rapuh, aku mungkin takkan bersedih.
Sampai kapan kau akan diamkan aku seperti ini.
Lidahku kelu, air mata sudah menggenang di kelopak mataku.
Masih ku ingat,
Saat awal bertemu denganmu.
Yang aku harapkan kau mencintaiku apa adanya.
Materipun aku tak minta, hanya kesediaan waktumu dan kehadiranmu yang aku mau.
Kenangan indah kita berdua,
Menopang saat terjatuh dan saling membantu.
Menjaga hubungan ini hingga menjadi kian indah.
tetapi, apakah ini akan baik-baik saja?
Aku tak mau depresi !!!!
Aku ingin menjalani hidup ini dengan indah.
Berilah aku penjelasan atas semua yang terjadi.
Aku disini menunggumu, tuk memanggilku kembali...
"Kasih"
_Dilema mode on_
Minggu, 27 November 2011
Senin, 18 Juli 2011
All about Love
Page 1
Cinta tumbuh dimana-mana
Bahkan cinta pula yang membuat
riak kehidupan kian merona
Dalam rintik hujan, ada cinta yang
bermekaran.
Dalam mendung, ada hati yang terbelah.
Bahkan Patah!
Ketika rintik hujan melambai diembus angin,
ada cinta di matanya.
Saat gerimis kian menderas, ada yang hilang di hatiku.
Gerimis itulah yang membaca cintaku.
Lalu, apa yang harus aku lakukan?
Page 2
Cintaku telah pudar..
hilang entah kemana.
tapi, sayang ini masih selalu ada di jiawa.
Aku ingin, cinta dan sayangku
bak matahari
selalu menerangi planet-planet,
bintang-bintang, bahkan seluruh ruang angkasa
Melodi-melodi cinta menari-menari
di dalam pikiranku.
Hingga akhirnya, kutulis kata-kata ini dalam hati
yang terdalam.
Page 3
Cintaku ini ibarat air,
tak bisa kugengam tapi selalu mengalir.
Cintaku ini ibarat angin,
tak bisa terlihat tapi selalu dirasakan.
Cintaku ibarat kuku,
selalu tumbuh meski dipotong oleh waktu.
Cintaku ibarat rumus matematika,
selalu abadi meski dimakan oleh zaman.
Cintaku ibarat akar,
tak bisa dilihat tapi selalu memanjang dan tumbuh.
Cintaku ibarat sejarah,
selalu dikenang dan takkan pernah terlupa.
Page 4
Ketika hati ini hampa,
dirinya hadir dalam relung-relung jiwa.
Ketika hati ini butuh cinta,
dirinya menuai asa berjuta makna.
Hingga akhirnya,
dirimu memenuhi hari-hari indahku.
Menepis segala gundah yang menerpa jiwa.
Duhai pemilik jiwa yang suci ini...
jika Kau mengizinkan,
pertemukanlah aku dengan dia,
yang telah mengusik jiwa.
Page 5
Jika cinta telah merekah,
senyuman takkan pernah lelah.
Kasih,
Kau telah mengepakkan kasih sayangmu untukku.
Memberikan kehangatan cinta dalam dekapanmu.
Membuatku tak ingin melepaskan rangkulanmu.
Kasih,
Begitu tulus kau mencintaiku.
Mewarnai kesedihanku dengan balutan cintamu.
Menghapus lukaku dengan kasih sayangmu.
Memberikan perhatian dalam kesepianku.
Senin, 13 Juni 2011
Pikiran yang Tak Berguna (Useless Mind)
Dalam kehidupan kita ternyata banyak orang yang tidak mampu menggunakan indra yang telah Allah karuniakan kepada mereka dengan baik. Mereka dikasih mata, namun tak mampu melihat kemahakuasaan Allah Swt di muka bumi ini. Mereka mempunyai telinga, namun tak mampu mendengar kebesaran Allah dalam hidupnya, dan mereka mampunyai pikiran, namun pikiran tersebut tak mampu sama sekali membawanya pada nilai hikmah dan kebenaran.
(Useless Mind) atau akal yang tidak berguna, secara hakikat adalah akal yang tak mampu memberikan manfaat kebaikan apapun pada orang yang memilikinya. Akal yang tak mampu menghantarkan empunya untuk mengenali Sang Khalik, Allah Swt. Useless mind adalah akal yang di dalamnya hanya terbesit dan terpikirkan hal-hal negative dan sama sekali jauh dari kebenaran.
Akal seperti ini akan selalu enjoy menghabiskan waktu dan energi untuk hal-hal yang tidak penting dan tidak mempunyai manfaat. Ketika ia diajak untuk berpikir mengenai hal-hal yang berguna bagi hidupnya baik di dunia maupun di akhirat nanti, ia mendadak menjadi tumpul, males, dan tak mempunyai gairah sedikitpun.
Dalam kehidupan ini, kita sering menemukan manusia yang tidak menggunakan akalnya, atau mungkin jangan-jangan kita sendiri termasuk orang yang tak pernah menggunakan akal kita? Banyak di antara kita yang menjadikan akal hanya sebatas alat sekedar untuk memikirkan kepentingan pribadi, rencana pribadi, dan sama sekali tidak pernah berpikir tentang orang lain, apalagi berpikir untuk mengenal Sang Khalik, Allah Swt.
Kita hanya menjadikan pikiran kita untuk kepentingan dan keperluan sempit, tanpa sama sekali memikirkan sesuatu yang lebih hakiki dan sejati dalam hidup ini. Sehingga, tidaklah heran apabila kita menemukan fenomena kehidupan di mana kita seakan tak mempunyai akal-pikiran lagi dalam hidup, karena kita senantiasa memandulkan fungsi akal yang kita miliki, sehingga akal tak ubahnya hanya sebatas pembeda antara manusia dengan hewan, karena akal kita tak mempunyai manfaat sama sekali bagi diri kita sendiri.
dan salah satu sifat akal yang tidak berguna adalah su'udzon atau berburuk sangka terhadap segala sesuatu, baik yang berkaitan dengan dirinya, kepada orang lain, apalagi kalau kita senantiasa su'udzon kepada Allah Swt. Pikiran kita dipenuhi dengan berbagai purbasangka terhadap segala sesuatu seperti yang di firmankan oleh Allah Swt dalam Al-Qur'an:
" Dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka." Qs. al-Ahzab:10
Kita sering sekali berprasangka kepada Allah dengan berbagai macam prasangka dan menilai Allah sesuai dengan logika pikiran kita yang sempit dan dangkal. Terkadang kita sering tidak menyadari betapa terbatasnya pikiran kita untuk memikirkan hal-hal yang tak terlihat oleh mata kita seperti garisan lembut takdir-Nya.
Cobalah memandang logika takdir dari sudt pandang kebaikan, maknailah semua takdir dari sudut pandang yang positif, hidupkan pikiran serta hati positif, dan istiqomahlah di jalan ini sehingga nilai-nilai positif melembaga dalam pikiran dan hati kita. Sekali lagi ingin saya katakan bahwa pikiran kita akan menciptakan seperti apa realitas kehidupan yang akan kita dapatkan.
Kontrollah pikiran dan hati kita agar tidak memasuki perasaan-perasaan negatif dengan membuat komitmen kehidupan yang baru, dan bergaulah dengan orang-orang yang mampu memberikan kemaslahatan dalam kehidupan kita-terlibih apabila komitmen kita belum kuat dan mudah terpengaruhi.
Nikmatilah kehidupan yang jauh dari berbagai macam sak dan purbasangka, sebuah kehidupan yang akan mengisi pikiran kita dengan berbagai macam hal yang bermanfaat, dan menjauhkan kita dari segala sesuatu yang tidak bermanfaat yang berakibat pada mandulnya fungsi pikiran di dalam kehidupan kita. Sehingga kita miliki sama sekali tidak berguna bagi kehidupan yang tengah kita jalani.
referensi: Nur.Mujahidin.Husnudzan Agar Kesedihan Menjadi Kebahagiaan. Jakarta Selatan-Indonesia 2009. hal. 57-64
Langganan:
Postingan (Atom)
